Rutanperempuansurabaya.id – Liberty Shoes menapaki perjalanan panjang sejak dilahirkan pada 1954 di Karnal sebagai Pal Boot House. Untuk menjaga posisi di lemari konsumen, perusahaan meletakkan strategi ganda: merawat loyalitas pelanggan lama sekaligus merebut perhatian generasi baru.

Fokus perusahaan tidak hanya soal warisan—seperti peluncuran Force 10 pada 1990 yang pada 1994-95 sudah menjadi lini andalan dengan penjualan sekitar Rs 32 crore—tetapi juga soal bagaimana membuat produk dan komunikasi tetap relevan di pasar yang bergerak cepat.
Warisan produk dan arsitektur merek
Liberty muncul bukan sebagai merek fesyen yang mengejar aspirasi; ia berakar dari kebutuhan untuk mengurangi ketergantungan pada sepatu impor. Sejak Force 10 meluas ke segmen sepatu kasual massal dan menempatkan perusahaan sempat menjadi pemain kedua terbesar setelah Bata, strategi produk berkembang menjadi beberapa sub-merek dengan identitas berbeda di bawah payung Liberty.
Strategi ini dimaksudkan untuk menjawab dua tuntutan sekaligus: mempertahankan pelanggan tradisional yang masih mengandalkan produk Liberty sehari-hari, dan menawarkan pilihan yang berbicara kepada konsumen baru yang tak punya memori merek turun-temurun. Seperti yang disampaikan Anupam Bansal, Executive Director, Liberty Shoes: “Fashion and comfort were never meant to be separate choices. All of this sits under the trust of the Liberty masterbrand.”
Menjaga pelanggan lama, menggaet pembeli baru
Dalam praktiknya, pendekatan Liberty dibagi dua: retention dan acquisition. Perusahaan tidak mengasumsikan loyalitas sebagai sesuatu yang otomatis; sebaliknya, ada upaya sistematis untuk menjaga hubungan dengan basis pelanggan yang lebih tua sekaligus membangun relevansi bagi usia 18–45+ yang lebih muda. “I think the more useful audience to focus on is actually a bit broader, roughly 18-45+. I’d rather have that older end of the audience stay engaged with us too, rather than skewing everything toward an 18-year-old audience alone.”
Salah satu inisiatifnya adalah Step Up Club, program loyalitas yang dirancang bukan sekadar memberi reward, tetapi mengubah pelanggan setia menjadi advokat merek yang menghasilkan konten otentik. Di ranah komunikasi, kampanye seperti ‘Mera Joota Hindustani’—yang melibatkan MC Square, Shilpa Rao, dan Riar Saab untuk mendukung peluncuran sepatu grafis Hindustani—menjadi contoh bagaimana Liberty menggabungkan warisan dan tren baru.
Kanal penjualan dan blueprint media
Ritel tetap menjadi kekuatan utama Liberty, sementara kanal online kini menyumbang sekitar 15–20% dari bisnis. Bansal menegaskan, “Traditionally, retail has been our core strength, so we continue to focus heavily on retail,” dan menambahkan, “Having said that, we’re equally investing in marketplaces and our own online store. We invest in both channels and keep adapting as the consumer evolves.”
Di ranah pemasaran, perusahaan menyusun media dalam tiga lapis: jangkauan lewat radio dan Google Business Profile untuk kebutuhan hyperlocal; tahap pertimbangan menggunakan kampanye performa di Meta dan Google, serta aktivasi influencer regional di tujuh negara bagian; dan retensi yang dikelola lewat CRM seperti SMS, WhatsApp, dan RCS terintegrasi dengan Step Up Club. Selain itu, format tradisional seperti jingle radio, iklan majalah, dan aktivitas di toko juga tetap digunakan.
Hasil kampanye menunjukkan efektivitas pendekatan ini: sebuah kampanye tercatat mencapai hampir 22,9 lakh orang, menghasilkan lebih dari 40 lakh tayangan, click-through rate 3,32%, dan mendorong sekitar kenaikan 2% pada kunjungan toko—tolok ukur penting bagi bisnis yang masih banyak bergantung pada toko fisik.
Pengukuran, cerita produk, dan peluang kategori
Bansal menekankan bahwa pengukuran harus beragam dan adaptif: “You need a combination of metrics, and then refine based on what’s actually working versus not. You can’t rely blindly on automated/platform data every time and assume that’s the full picture. At the end of the day, you look at the actual impact – on Instagram, on your website, in your stores – and treat those as your real deliverables, rather than just content virality on its own.”
Perubahan teknologi juga menggeser cara bercerita di kategori yang dulu dominan emosi; kini klaim kenyamanan dan kecocokan dijelaskan dengan data produk. Di samping itu, strategi hyperlocal, pencatatan tingkat toko, dan pemanfaatan loyalitas sebagai saluran media menjadi semakin penting.
Di tengah pasar sepatu yang kini didorong bukan hanya kebutuhan tapi juga gaya dan fandom, pendekatan Liberty adalah mempertahankan yang membuatnya berbeda—dan memastikan hal itu relevan bagi generasi berikutnya. “Liberty is betting on relevance,” kata Bansal. “An Indian consumer doesn’t need a shoe built for international runways, but one built for Indian roads, Indian weather, and Indian feet.”
