Jonathan Thona Yiombi, selebritas kelahiran Kongo yang tumbuh di Korea, memakai channel YouTube sebagai sarana untuk menantang stereotip rasial dan membuka ruang diskusi yang jarang terjadi di masyarakat setempat. Lewat potongan video yang menampilkan interaksi sehari-hari, ia mencoba mengubah persepsi dan menyoroti bagaimana citra rasial sering kali dibentuk lewat penggambaran sederhana.

Salah satu adegan yang viral memperlihatkan empat pria kulit hitam berdiri di sebuah zebra cross di Seoul pada tengah malam. Ketika lampu menyala hijau, mereka berjalan beriringan sambil bercanda: “Oh, I’m glad we’re holding Starbucks,” dan “We don’t look dangerous now, do we?” Adegan itu berlanjut saat salah seorang menoleh ke arah kamera dan menegur, “I saw you put gangster music over the last video when we were walking. Is that what we look like to you?”
Video sebagai cermin stereotip
Potongan video tersebut sengaja menyorot interaksi ringan yang menyentil stereotip. Humor dan dialog yang disajikan bukan sekadar untuk mengundang tawa, melainkan untuk menantang cara pandang penonton terhadap kelompok yang seringkali dipandang berbeda. Dalam konteks Korea, pembicaraan santai tentang ras jarang menjadi bahan percakapan publik, sehingga konten semacam ini relatif jarang ditemui.
Latar belakang Jonathan di Korea
Jonathan lahir di Kongo dan pindah bersama keluarga ke Korea saat berusia delapan tahun. Ia menghabiskan masa kecilnya di Gwangju, menempuh pendidikan dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di kota itu. Pengalamannya tumbuh sebagai bagian dari komunitas minoritas di Korea memberi dasar kuat bagi konten yang ia produksi sekarang. Kariernya mulai menarik perhatian publik setelah tampil dalam sebuah dokumenter, yang membuka jalan baginya untuk lebih dikenal di ranah hiburan dan media.
Tujuan dan pendekatan konten
Dalam karya-karyanya, Jonathan terlihat memilih pendekatan yang menggabungkan humor dengan refleksi sosial. Alih-alih hanya menampilkan pengalaman pribadi sebagai narasi tunggal, ia kerap memakai format yang menggugah penonton untuk mempertanyakan asumsi dan stereotip yang sudah mengakar. Penggunaan adegan sehari-hari, seperti berjalan di trotoar sambil memegang minuman, sengaja dipakai untuk menunjukkan betapa mudahnya sebuah gambaran kecil bisa berubah menjadi penilaian berlebihan.
Impak di ruang publik
Konten yang menyinggung masalah rasial sering memicu perdebatan. Di satu sisi, ada nilai edukatif ketika topik-topik yang jarang dibicarakan mulai muncul ke permukaan. Di sisi lain, menyentuh isu sensitif memerlukan keseimbangan agar tidak memperburuk stereotip atau memicu salah paham. Berdasarkan gaya penyajian yang dipilih Jonathan, tampak bahwa tujuannya bukan provokasi semata melainkan membuka ruang percakapan yang seimbang—menggunakan humor sebagai pintu masuk untuk diskusi yang lebih serius.
Pendekatan ini juga menunjukkan bagaimana pembuat konten yang memiliki pengalaman hidup lintas budaya dapat berkontribusi pada keberagaman narasi di media sosial. Dengan menempatkan pengalaman pribadinya sebagai bahan cerita, Jonathan memberi gambaran tentang realitas hidup minoritas yang sering terabaikan dalam percakapan publik sehari-hari.
Meskipun topik rasial tetap sensitif dan kompleks, video-video seperti yang dibuat Jonathan menandai langkah kecil menuju keterbukaan. Lewat penggambaran sederhana namun mengena, ia berupaya mengajak penonton menimbang kembali prasangka yang terbentuk dari stereotip visual—dan pada akhirnya mendorong diskusi yang lebih luas tentang bagaimana komunitas berinteraksi dan saling memandang di ruang publik.
