Menteri Kenya Hanna Wendot Cheptumo menilai Korea sebagai contoh yang relevan tentang bagaimana warisan dan inovasi bisa dipadukan untuk mendukung berbagai sektor. Ia melihat kemampuan Korea dalam menjaga tradisi sambil mengintegrasikannya ke dalam kehidupan modern sebagai sesuatu yang patut dipelajari.

Cheptumo, yang menjabat sebagai Cabinet Secretary for Gender, Culture and Children Services, mengatakan transformasi warisan yang berusia berabad-abad menjadi pendorong diplomasi, pariwisata, dan pertumbuhan ekonomi memberikan pelajaran bagi negara-negara yang ingin membangun sektor kreatif. “What impressed me most was the care with which Korea preserves and presents its heritage while seamlessly integrating it into modern life,” Cheptumo said.
Warisan sebagai pendorong ekonomi dan diplomasi
Pandangan Cheptumo menyoroti fungsi ganda warisan budaya: selain nilai identitas, warisan juga dapat dioptimalkan sebagai aset ekonomi dan diplomasi. Dalam konteks pengembangan sektor kreatif, pengolahan warisan—baik berupa situs, praktik budaya, maupun produk tradisional—bisa membuka peluang bagi pariwisata berkelanjutan, promosi budaya lintas negara, dan penciptaan lapangan kerja.
Meski sumber informasi terbatas pada pernyataan tersebut, gagasan bahwa warisan dapat dirancang ulang atau disajikan dengan pendekatan modern tanpa kehilangan esensinya menjadi poin utama. Pendekatan seperti ini memberi contoh bagi pembuat kebijakan dan pelaku budaya untuk mencari keseimbangan pelestarian dan inovasi.
Impresi Cheptumo terhadap pendekatan Korea
Cheptumo menekankan perhatian yang diperlihatkan Korea dalam merawat dan menampilkan warisan budayanya. Pernyataan langsungnya mencerminkan kekaguman terhadap cara negara tersebut menjaga otentisitas sambil tetap relevan bagi generasi konrer. Fokus pada ‘care’ dalam pelestarian serta presentasi yang mulus ke ranah modern menjadi aspek yang diangkat sebagai nilai praktik yang efektif.
Kesan tersebut penting karena menyiratkan bahwa pelestarian tidak harus selalu bersifat konservatif atau statis. Menyusun strategi yang memungkinkan warisan tampil di ruang publik, industri kreatif, dan komunikasi internasional dapat meningkatkan pemahaman dan apresiasi sekaligus memperkuat brand budaya suatu negara.
Relevansi bagi pengembangan sektor kreatif
Bagi negara-negara yang sedang mengembangkan sektor kreatif, termasuk pihak yang menangani kebijakan budaya dan kesejahteraan anak, pendekatan yang menggabungkan pelestarian dan inovasi menawarkan model kerja yang dapat disesuaikan. Elemen-elemen kunci yang dapat dipertimbangkan lain: memastikan kualitas perawatan situs dan praktik budaya; merancang presentasi yang menarik bagi publik modern; dan mencari sinergi kebijakan budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Tanpa menguraikan langkah konkret yang telah dijalankan, pernyataan Cheptumo membuka ruang diskusi tentang prioritas kebijakan di bidang budaya dan strategi promosi internasional. Hal ini juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor—pemerintah, komunitas budaya, dan pelaku industri—agar warisan dapat hidup dalam konteks modern tanpa kehilangan makna historisnya.
Pendekatan yang menempatkan warisan sebagai aset multiperan memberi gambaran alternatif bagi perumus kebijakan yang ingin meningkatkan dampak budaya terhadap pembangunan ekonomi dan hubungan internasional.
Kesan yang disampaikan Cheptumo menyiratkan bahwa pelestarian bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari proses berkelanjutan yang dapat memperkaya kehidupan masyarakat dan memperkuat posisi budaya di panggung global. Untuk pembuat kebijakan dan pelaku kreatif, gagasan ini menawarkan bahan refleksi dalam merancang strategi yang menghormati masa lalu sambil menyambut inovasi masa kini.
